Selasa, 13 Desember 2016

Pengertian Keperawatan
Pada lokakarya Nasional 1983 telah disepakati pengertian keperawatan
sebagai berikut , keperawatan adalah pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio psiko sosio spiritual yang komprehensif yang ditunjukkan pada individu, kelompok dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia .
– Florence Nightingale ( 1895 ) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut , keperawatan adalah menempatkan pasien dalam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak.
 – Calilista Roy ( 1976 ) mendefinisikan keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien.
            Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah upaya pemberian pelayana / asuhan yang bersifat humanistic dan professional, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, standart pelayanan  dengan berpegang  teguh pada kode etik yang melandasi perawat professional secara mandiri atau memalui upaya kolaborasi.
B.     Sejarah Perkembangan Keperawatan
Perkembangan keperawatan tidak terlepas dari perkembangan pendidikan keperawatyan
dan perkembangan layanan keperawatan . menelusuri dan menguraikan sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia maupun di luar negeri tidaklah mudah. Penjelasan ini akan terbagi kedal;am lima zaman yaitu :
1.      Zaman Purba
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, keperawatan sudah ada sejakadanya manusia
dimuka bumi ini . pendapat ini didukung oleh kenyataan bahwa keperawatan awalnya adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar “mother instinct” . jadi bias dikatakan naluri keperawatan ada pada setiap pribadi manusia.
            Penduduk mesir ( 5000 M )  menyembah Dewa Iris untuk meminta kesembuhan dan mendirikan kuil sebagai rumah sakit. Raja Asoka di india mendirikan sekolah untuk mendidik para calon perawat , sedangkan penduduk Yunani mengenal Dewa pengobatan yang disebut Aesculapius dan membangun kuil menyerupai sanatorium. Di Romawi, pemerintahnya mendirikan rumah sakit dan memanfaatkan tenaga budak laki-laki dan perempuan .
2.      Zaman Permulaan Masehi
Zaman ini dipengaruhi  oleh perkembangan  dan penyebaran dua agama besar, yakni
Kristen dan Islam. Kristen menggunakan biarawati sebagai perawat sedangkan Islam mengenalkan ilmu pengetahuan yang dilandasi kasih sayang dan banyak orang akhiurnya beralih ke Islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan termasuk pengobatan dan keperawatan.
3.      Zaman Pertengahan
Pada zaman ini, terjadi perang besar antar agama yang dikenal dengan perang salib.
Perang ini membawa banyak derita bagi rakyat : korban luka dan terbunuh , kelaparan, berbagai penyakit, dll.ilmu pengobatan dan perawatanpun terus mengalami kemajuanakan . akan tetapi kiblat pembelajaran untuk ilmu pengobatan dan perawatan yang semula ada di Negara Islam kini beralih kenegara barat.
4.      Zama Baru ( Renaisans)
Pengaruh Renansans juga merambah ke ilmu kesehatan atau ilmu keperawatan . Pada
Zaman ini keperawaan diganti oleh orang awam yang tidak mengerti tentang keperawatan. Pada zaman ini muncul seorang tokoh keperawatan yang bernama Florence Nightngale. I mgembangkan suatu model praktik asuhan keperawatan yang menyatakan bahwa kondisi kondisi sakit seseorang disebabkan oleh factor lingkungan. Pada zaman ini berdiri Palang Merah Indonesia yangdipelopori oleh John Hendry Dunand. Lembaga ini dibentuk untuk menampung para korban perang. Pekerjaan di titik beratkan  untuk memajukan kesehatan, mencegah kepenyakit, dan meringankan penderitaan pasien.


5.      Zaman Modern

Kiprah Florence Nightingaledalam keperawatan rupanya berpengaruh besar pada
perkembangan keperawatan di era berikutnya. Di Inggris, terjadi kemajuan dalam bidang keperawatan di antaranya adalah pembangunan sekolah – sekolah perawat dan pendirian perhimpunan perawat inggris ( British Nurse Association ) oleh Erenwick pada tahun 1887. Perhimpunan ini bertujuan untuk mempersatukan perawat – perawat yang ada di seluruh inggris. Kemudian pada 1 Juli 1999 , Erenwick juga mendirikan sebuah lembaga yangh disebut international Council of Nurses( ICN ) .
            Kondisi ini mendorong munculnya tokoh – tokoh penting dalm dunia keperawatan.
  1. Hildegard E. Peplau (1952). Ia menekankan bahwa hubungan antar manusia merupakan dasar bagi perawat untuk mengkaji proses hubungan dengan pasien.
  2. Ida John Orlado (1961). Ia menekankan bahwa keperawatan bertujuan untuk merespons perilaku klien dalam memenuhi kebutuhanny dengan segera.
  3. Virginia Handerson (1966). Ia menekankan perawat hanya membantu pasien dalam melakukan hal yang tidak dapat ia lakukan sendiri agar kemandirian pasien meningkat.
  4. Sister Calista Roy (1970). Ia menekankan bahwa peran perawat adalah untuk member kemudahan bagi pasien guna mengembangkan kemampuan penyesuaian diri pasien.
  5. Martha E. Roger (1970). Ia menekankan bahwa manusia mempunyai sifat alamiah yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Perkembangan dunia keperawatan di dunia bukan hanya berfokus pada aspek pelayanan, tetapi juga pada jenjang pendidikan keperawatan. Di tingkat dunia, pendidikan keperwatan sudah mencapai tingkat dektoral. Tetpai kondisi ini masih berbeda di negara kita.




SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia pada umumnya di pengaruhi oleh latar belakang sejarah Indonesia. Ini berkaitan dengan hegemoni yang diterapkan bangsa Eropa dan Jepang terhadap Indonesia.
Secara umum, sejarah perkembangan keperawatan dibagi menjadi enam, sesuai dengan perjalanan bangsa Indonesia.

  1. ZAMAN VOC
Utuk kepentingan usaha perdagangan tentara Belanda didirikan Binnen Hospital di
Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1799. Rumah sakit ini memanfaatkan tenaga perawat yang berasal dari Bumi Poetra ( kaum terjajah) yang disebut dengan pembantu orang sakit (POS). Setelah VOC bubar , didirikan sejumlah usaha dalam bidang kesehatan, antara lain Dinas Kesehatan (Miliataire Gezondsheids Dient) dan Dinas Kesehatan Rakyat( burgerlijke Gezhondheis Dient).

  1. ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA I (1602-1799)
Pada masa ini tidak ada usaha kesehatan yang menonjol pada masa ini. Secara
umum, pemerintah hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pendahulunya VOC.

  1. ZAMAN PENJAJAHAN INGGRIS (1811-1816)
Pada zaman ini mulai berkembang usaha kesehatan yang dipelopori oleh Raffles.
Usaha ini meliputi kegiatan vaksinasi cacar secara masal, perbaikan perawatan kesehatan jiwa , dan perawatan bagi para tahanan.
  1. ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA II (1816-1942)
Setelah pemerintah diserahkan kembali kepada Belanda, usaha kesehatan di
Indonesia semakin maju. Pada masa ini, pemerintah  berhasil meluncurkan undang – undang kesehatan disusun oleh Prof. Dr. reinwardt. Selain itu pada tahun 1819, Residen  V Pabst mendirikan sebuah Rumah Sakit  Stadsverband dan berkedudukan di Glodok. Kemudian rumah sakit ini berganti nama dan berkedudukan di Salemba.

  1. ZAMAN PENJAJAHAN JEPANG (1942- 1945)
Pada zaman penjajahan Jepang , keperawatan di Indonesia boleh dikatakan
mengalami kemunduran. Tamouk kepemimpinan rumah sakit diambil alih Jepang dan sebagian lagi dipegang oleh bangsa Indonesia. Pada maa ini wabah penyakit menyebar di mana – mana akibat        minimnya suplai obat – obatan. Dapat dikatakan pada masa penjajahan Jepang merupakan zaman yang sungguh tidak manusiawi.

  1. ZAMAN KEMERDEKAAN SAMPAI SEKARANG (1945- sekarng)
Pada awal kemerdekaan ditemui banyak sekali kekurangan pada kondisi perumah
sakitan dan perawatan di Indonesia, diantaranya adalah suplai obat – obatan yag minim. Kondisi ini lambat laut mulai mengalami perubanhan, terutama dengan didirikannya berbagai institusi pendidikan keperawatan sampai jenjang perguruan tinggi.
            Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri di peroleh oleh Folerence Nightingale sekitar abad ke -18 dan 19. Hasil didikan sekolah Nigtingale mempengaruhi perkembangan keperwatan di dunia. Pendidikan keperawatan juga berkembang hingga ke perguruan tinggi. Ini ditandai dengan berdirinya program pasca sarjana keperwatan British Columbia di  Vancouver – Canada pada tahun 1919. Lalu pada tahun 1924-1934, muncul konsep program pendidikan spesialis keperawatan yang baru terealisasi pada tahun 1946 dengan didirikannya program spesialis keperawatan jenjang S1, hingga program master dan doctor. Perkembangan pendidikan keperwatan diluar negeri ternyata berbeda jauh degan pendidikan keperawatan di Indonesia yang penuh liku- liku. Pada masa VOC profesi perawatsudah ada. Pada tahun 1913 , program pendidikan keperwatan ydng pertama didirikan di rumah sakit Semarang ( Depkes RI, 1989). Rumah Sakit ini membuka seperti kursus mendatangkan pengajar dari Belanda. Pelaksanaan layanan keperawatannya disesuaikan dengan ajaran Islam, yakni perawat perempuan merawat pasien perempuan dan perawat laki – laki merawat pasien laki – laki.
             Pendidikan keperawatan kemudian berkembang setaraf dengan sekolah menengah pertama (SMP) pada masa sekarang . Program ini dilaksanakan pada tahun1930, syaratnya peserta didikan harus lulus Sekolah Rakyat ( sekarang SD) terlebih dahulu. Seiring dengan sekolah pengatur rakyat kemudian berubah menjadi Sekolah Perawat kesehatan (SPK) yang merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat. Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan yang semakin maju, di dukung dengan kesadaran masyarakat yang kian meningkat untuk memperoleh layanan keperawatan yang professional maka keperawatan harus terus meningkatkan jenjang pendidikannya hingga tingkat yang lebih tinggi. Pada tahun 1962 didirikan tingkat pendidikan akademi keperawatan akper (akper di Jakarta) . sejak saat ini mulai muncul akper – akper baru di berbagai daerah di Indonesia . Puncak perkembanganya diperkirakan mulai pada tahun 1994, yang ditandai oleh semakin menjamunya akper – akper swasta di seluruh nusantara.
Sejumlah tantangan dan kecendrungan yang berdampak pada profesi akibat adanya perubahan global:
  1. Pergeseran pola masyarakat di Indonesia dari agraris ke indrustialis, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang cepat saat ini membuat masyarakat Indonesia lebih kritis.
  3. Analis Internasional Council of Nurses (1997 dalam Yani, 1997) yang menyatakan bahwa pada tahun 2020 di seluruh dunia akan terjadi perubahan global , diantaranya adlah peningkatan  pertumbuhan populasi lansia ; penurunan angka kelahiran, terutama di negara barat; peningkatan insidensi penyakit kronis; perkembangan kebebasan social; penyakit AIDS yang masih terus menjadi masalah; dan kesehatan jiwa yang terus menjadi masalah utama.
Untuk menghadapi tantangan yang berta tersebut , dibutuhkan tenaga perawat dengan kemampuan professional. Upaya yang di nilai strategis untuk mencetak tenaga perawat yang professional adalah memlalui pengembangan pendidikan keperawatan. Oleh sebab itu, pendidikan keperawatan tidak boleh terbatas pada DIII  keperawatan saja, tetapi harus terus dilanjutkan hingga kejenjang strata.
Berdasarkkan pemikiran tersebut di bukalah program pendidikan sarjana keperawatan pertama di universitas Indonesia. Awalnya, S1 keperawatan masih berupa program studi yang menginduk dibawah falkutas kedokteran. 0 program studi ilmu keperwatan kedua di buka di Universitas Padjajaran Bandung. Langkah ii kemudian diikuti di berbagai universitas – universitas di Indonesia. Ini merpukan titik awal perkembangan profesionalisme profesi keperawatan Indonesia. Selain itu pihak swasta juga ikut berpartisipasi dalm mengembangkan profesi ilmu keperawatan seperti Sekolah Tinggi imu kesehatan ( STIKes) telah menjamu di berbagai daerah. Perkembangan pendidikan keperawtan di Indonesia ibaratnya bendungan yang telah di buka pintunya, dimana – mana berdiri institusi keperawatan. Secara kualitas dan sumber daya perawat memeng terbilang besar.
             Sebenarnya kondisi seperti ini sudah dapat diprediksi sebelumnya mengingat lulusan keperawatan yang jauh melebihi lulusan tenaga kesehatan akan menyebabkan terjadinya pengangguran.
 Contoh;  Di satu kabupaten terdapat tiga intitusi pendidikan keperawatan dengan jumlah lulusan masing – masing 60 orang, otomatis setiap kabupaten sudah mencetak 180 tenga kesehatan padahal daya serapnya belum tentu mencapai angka tersebut. Apabila keadaan it uterus berlanjut bisa di bayangkan berapa tenaga perawat yang kesulitan untuk mencari pekerjaan. Apalagi program profesi keperwatan Indonesia jauh menurun di bandingan pendidikan keperawatan di luar negeri. Sejarah mencatat bahwa oreganisasi profesi PPNI berupaya meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan dan menganggap pendidikan keperawatan tingkat SMA yakni SPK menjadi akademi keperwatan terendah.



Sumber : https://chandrarandy.wordpress.com/2013/11/26/pengertian-keperawatan-dan-sejarah-perkembangan-keperawatan/